Bagai ombak yang menggema terancam surut terombang-ambing di bibir pantai
Ditemukan dari bilik pintu terbuka yang hampir dimakan rayap
Penuh kehati-hatian dengan izin menyapa santun
Seolah tak ingin menyakiti
Tapi sang Nona tak sembarang menyambut
Aku melihat cat warna itu selalu kau campur menjadi satu di atas kanvas putih
Pandainya kau menata kepingan hati yang ropak-rapik ini
Tuan, apa yang kau inginkan dari menyulam senyum ku?
Gemarnya kau lukis bagaimana isi hati mu
Sedang aku mengungkap rasa dengan klausa
Perasaan yang logis
Logika yang sensitif
Bla bla bla sulit mengutarakan lewat bibir yang membeku
Ini sebuah seni dalam membisikkan rasa
Lirih memang, tapi kau paham kan maknanya?
Bagai membuka lembaran baru, hati yang beku bisa mencair
Pulang yang selama ini didamba
Rumah yang selama ini dicari
Tersesat yang akhirnya menemukan mentari
Oh ya, bunga ku kembali merekah.
Tunggu…tunggu…ini baru prasangka ku saja.
Jarum jam penantian masih berputar.
Sabarnya si Nona mendambakan asa